Tugboat Singapura Karam, Tiga ABK Hilang
Bali, AKSI
ARUS dan ombak perairan selat Bali benar-benar harus diwaspadai setiap kapal asing yang melintas. Pasalnya tidak sedikit kapal yang mengalami kecelakan berat maupun ringan di selat yang memiliki banyak palung laut tersebut.
Tenggelamnya kapal tongkang Bosowa 12 Minggu, 9 Maret 2008 bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, sebuah kapal tugboat berbendera Singapura juga tenggelam saat menarik kapal tongkang bermuatan 13 ribu metrik batubara. Tiga anak buah kapal (ABK) tugboat bernomor lambung TJA 2811 hilang bersama kapal yang karam Minggu, 23 Dsesember 2007 pukul 09.14 itu.
Ketiga ABK itu adalah Kepala Kamar Mesin Edi Sulistyo Trimulyono, 36 tahun, warga Perum Kadirojo Permai B6 Purwomartani, Jogjakarta dan anak buahnya Edi Prasetyo, 32 tahun, asal Batang, Pekalongan, Jawa Tengah. Keduanya terjebak di ruang mesin saat tugboat milik PT Rig Tender Indonesia itu ditelan ganasnya selat Bali. Sedangkan, Hasanuddin, 27 tahun, warga Makassar, hilang ditelan arus lantaran nekat menyeburkan diri ke laut.
Untungnya, tujuh ABK lainnya selamat, termasuk nahkoda kapal. Mereka adalah kapten kapal Asrul, 30 tahun, warga Makassar; ABK Jasman, 29 tahun, warga Samarinda; Hasan, 28 tahun, warga Banjarmasin; Wasila, 31 tahun, warga Banjarmasin; dan M. Yakub, 30 tahun, warga Banjarmasin. Sedangkan, juru mudi Djayus, 38 tahun, warga Salatiga, Jawa Tengah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Banyuwangi. Dia sempat pingsan dan lemas, karena terlalu banyak menghisap air laut bercampur solar dan oli yang tumpah dari kapal. Selamatnya Djayus seperti mukjizat, sebab dia sempat terjebak di ruang kemudi. Namun, dia berhasil keluar dari jendela kapal dan muncul ke permukaan air pada detik-detik terakhir kapal mulai tersedot ke bawah laut.
Tugboat penarik tongkang CB 1213 itu bertolak dari Banjarmasin sejak 19 Desember 2007. Kapal yang memuat sembilan ABK itu berlayar menuju Cilacap, Jawa Tengah dengan menarik tongkang bermuatan 13 ribu metrik ton batubara. Namun, musibah terjadi saat kapal yang dinahkodai Asrul memasuki perairan Selat Bali. Tiba-tiba mesin tugboat mati saat memasuki perairan Batu Tulis, dekat Pulau Tabuhan, Bali. Celakanya, kapal tongkang yang ditarik tugboat terseret arus air laut. Kuatnya arus membuat posisi kapal tongkang tetap melaju kencang ke depan. Tak pelak, tugboat yang berada 400 meter di depannya pun diseruduk dari belakang. Akibatnya, kapal oleng dan langsung terguling hingga tenggelam dalam tempo beberapa menit saja.
Saat mesin mati, Edi Sulistyo yang menjadi kepala kamar mesin langsung berlari ke bawah menuju ruang mesin. Bersama anak buahnya Edi Prasetyo, dia berusaha menghidupkan mesin dengan memperbaiki kerusakan. Siapa sangka di tengah sibuknya mengutak-atik mesin, ternyata tugboat tertabrak tongkang hingga tenggelam dalam tempo cepat. Tak ayal, keduanya terjebak di dalam kamar mesin hingga tugboat tenggelam di kedalaman puluhan meter.
Spontan, para ABK kapal panik. Mereka berhamburan keluar kapal dan berusaha mengendarai life raft (kapal karet). Celakanya, life raft sempat terlepas dari jangkauan ABK. Sehingga mereka bertahan hingga kapal tugboat warna hitam itu perlahan-pelahan tersedot air laut. ‘’Untungnya, ada perahu nelayan Ketapang, Banyuwangi yang dikemudikan Pak Somad. Dia berani menolong kami,” tutur Jasman, ABK yang selamat.
Sedangkan, Hasanudin yang dikenal mahir berenang justru tidak selamat. Dia nekat melompat ke laut saat kapal mulai tenggelam. Namun, begitu mencebur ke laut, tubuhnya tidak pernah muncul lantaran tersedot pusaran air. Tubuhnya baru ditemukan mengapung di perairan Gilimanuk, Bali, beberapa hari kemudian. Tragisnya, tubuhnya yang tinggal mengenakan celana dalam itu sudah melepuh dan sudah tidak ada kepalanya.
ABK yang selamat dievakuasi menuju bibir pantai. Selanjutnya, mereka dibawa ke markas Satpolair dan Polsek KP3 Tanjung Wangi di Ketapang, Banyuwangi. Pencarian terhadap Edi Sulistyo dan Edi Prasetyo oleh tim SAR dan personel gabungan dari TNI AL, Satpolair, dan Polres Banyuwangi selama seminggu tidak membuahkan hasil.
Tongkang sempat ditarik dua tugboat yang didatangkan dari kantor pusatnya di Banjarmasin ke perairan dangkal di pesisir Wongsorejo, Banyuwangi. Namun, anehnya tugboat TJA 2811 yang sebelumnya masih tergantung di tongkat dengan tali sling kawat sepanjang 400 meter, saat diangkat talinya ternyata hilang. Tugboat tidak jelas keberadaannya dan diduga terseret arus ke laut lepas. Sedangkan tali kawat wire yang menghubungkan tugboat dengan tongkang yang ditarik, sudah putus. Namun, tongkang bermuatan batubara berhasil diselamatkan.
Komandan Stasiun TNI Angkatan Laut Banyuwangi Letkol Laut Suhendro mengakui, sebelumnya dua mayat ABK tugboat memang sulit dievakuasi. Karena posisi terakhir tugboat yang tenggelam berada di kedalaman laut 400 meter, sehingga sulit terjangkau penyelam. TNI AL mengaku kesulitan menerjunkan tim penyelam tradisonal. ‘’Penyelam tradisional hanya mampu bekerja pada kedalaman laut 20 meter. Sedangkan lebih dari itu tidak akan mampu,” terang Suhendro yang ikut mencari korban dengan Kapal AL Tabuhan selama beberapa hari.
Untuk melakukan evakuasi diputuskan menarik bangkai tugboat bersama tongkangnya ke parairan dangkal. Namun, saat sudah dievakuasi di perairan Wongsorejo, ternyata bangkai tugboat sudah hilang. Tali kawat baja penahannya sudah putus. ‘’Mungkin tali putus saat tongkang diseret dua tugboat ke perairan dangkal atau putus karena tidak kuat menahan beban tugboat selama beberapa hari. Setelah tali putus, keberadaan tugboat belum jelas di mana,’’ tutur Letkol Suhendro.
Sementara itu, Asrul, sang nahkoda terpaksa meringkuk di tahanan Polair Ketapang setelah ditetapkan sebagai tersangka. Dia dinilai lalai dalam menjalankan tugas hingga menewaskan tiga ABK-nya. Kini berkasnya sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Banyuwangi untuk selanjutnya perkaranya mulai disidangkan pada April 2008.(Ali)


![Bwi-sehat[1] Bwi-sehat[1]](http://farm3.staticflickr.com/2363/2475248737_b933c05b09_t.jpg)
![Bwi-kurus[1] Bwi-kurus[1]](http://farm4.staticflickr.com/3036/2475243779_5dccfa718c_t.jpg)
0 Responses to “Tugboat Singapura Karam, Tiga ABK Hilang”