08
May
08

27 Persen Balita Gizi Buruk

 

27 Persen Balita Gizi Buruk 

JAWA TIMUR, AKSI

Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Departemen Pertanian (Deptan) RI Tjuk Eko Hari Basuki menegaskan, gizi buruk sudah menjadi fenomena nasional. Jadi tidak hanya terjadi di wilayah Jawa Timur. Bahkan,  27 persen bayi di bawah lima tahun (balita) di Indonesia mengalami gizi buruk. Dalam seminar “Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Menuju Pertanian Tangguh di Jatim” yang digelar Pemprov Jatim, Bank Jatim, dan UPN Jatim di Surabaya, Kamis, 13 Maret 2008, Tjuk menegaskan bahwa gizi buruk sudah lama terjadi di Indonesia. ‘’Tidak terjadi mendadak,” ujarnya.

Ada dua hal yang menyebabkan gizi buruk. Disebutkan, pemicunya adalah kemiskinan dan rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi. Balita kurang diperhatikan hingga akhirnya berat badannya di bawah standar. ‘’Saya menemukan seorang ibu di NTB yang memakai gelang, kalung, dan perhiasan emas. Sebenarnya mampu secara ekonomi, tapi dia tidak tahu gizi yang baik untuk makanan anaknya,” tuturnya.

Apa saja yang sudah dilakukan pemerintah? Diungkapkan, gizi buruk akan diatasi dengan sistem kewaspadaan pangan dan gizi dengan pemetaan daerah rawan pangan. Hasilnya, tercatat delapan daerah miskin di Jawa Timur. Terutama di Madura dan wilayah tapal kuda. ‘’Kami membantu dana Rp 25 juta di masing-masing daerah yang masuk 300 kabupaten/kota miskin,” ungkapnya.

Pemerintah juga akan mengaktifkan kembali peran pos pelayanan terpadu (Posyandu). Tugas posyandu mengontrol berat badan balita. Sehingga, orang yang aktif adalah ibu balita. ‘’Perhatian petugas posyandu akan meningkat, sehingga target berkurangnya krisis pangan pada 2015 dapat tercapai,” cetusnya. 

      Saat ini, kampanye memerangi gizi buruk gencar dilakukan World Food Program (WFP). Momen memperingati International Women’s Day atau hari perempuan internasional 14 Maret 2008 lalu, benar-benar dimanfaat WFP. Bahkan, WFP Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB) memperingatinya bersama dan memusatkan peringatan hari perempuan sedunia itu di Kabupaten Probolinggo. Berbagai acara digelar di pendapa Kabupaten Probolinggo. Ada seminar, bazaar, pameran karya anak dan makanan khas Kabupaten Probolinggo. WFP juga melakukan kunjungan ke wilayah dampingan di Kecamatan Maron, Probolinggo.

      Acara itu dihadiri Chief Officer WFP Jatim dan NTB Giancarlo Stopponi, perwakilan WFP Jakarta Bradley Busseto, dan Konsulat Amerika Mary Mc Celland. Tak ketinggalan, perwakilan UNICEF Jawa Timur dan NTB Sinung D. Kristanto.

      Dalam sambutannya, Giancarlo Stopponi menjelaskan, di banyak lokasi di dunia, posisi wanita belum dianggap setara dengan laki-laki. Kurang lebih 1,3 miliar penduduk dunia sangat miskin adalah wanita. Dalam urusan karir perempuan juga tak seberuntung laki-laki. “Sebagian besar wanita hanya mendapat bayaran 30-40 persen gaji untuk pekerjaan yang sama dengan laki-laki,” katanya.

      Bersamaan dengan peringatan hari perempuan sedunia, WFP ingin menunjukkan kepedulian melalui kaum wanita. Kebanyakan penerima bantuan WFP tahun ini adalah kaum wanita. “Kami percaya, pemberdayaan wanita menjadi cara efektif mengurangi jumlah kelaparan di dunia,” ungkap Giancarlo.

      WFP sudah sering mengunjungi Probolinggo. Setahun ini, lembaga di bawah naungan PBB itu menggarap Probolinggo. “Di Jawa Timur, kami punya dua wilayah garapan, yaitu Probolinggo dan Sampang,” sebut Giancarlo.

      Sejumlah alasan mendasari dipilihnya Probolinggo sebagai lokasi pilot project program WFP. Bukan hanya mempertimbangkan faktor ketiadaan bahan pangan. Tetai juga memperhatikan kepedulian pemerintah daerah dalam mengurusi masalah tersebut. “Kita memiliki peta kerawanan pangan. Itu kita riset dan diskusikan dengan pemerintah. Ternyata Pemerintah Kabupaten Probolinggo memiliki komitmen dan perhatian tinggi terhadap program ini,” terang Bradley Busseto, perwakilan WFP Jakarta.

Kepala Bappeda Tanto Walono mengakui, pilihan WFP kepada Probolinggo bukan karena daerahnya memiliki rapor merah dalam persoalan kesehatan makanan. “Ada banyak faktor. Salah satunya, prioritas pembangunan kita pada bidang kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Probolinggo Siswantoro menyatakan, sampai saat ini Probolinggo berada dalam taraf menggembirakan. “Angka malnutrisi kita kurang dari 0,5 persen. Itu jauh di bawah target nasional 2 persen,” sebutnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Probolinggo Hj Dian Prayuni mengaku merasa terbantu dengan kehadiran WFP. “Bisa bersama PKK menghidupkan semangat pemberdayaan perempuan di Probolinggo,” kata Dian.(ali) 

 

 

 


0 Responses to “27 Persen Balita Gizi Buruk”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


 

May 2008
M T W T F S S
     
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives

Categories

Recent Comments

indosaudi on Buku Tamu

Blog Stats

  • 1,499 hits

RSS Uploads from royanisty

Tinggalkan Pesan

P h o t o

bwi-kapal_bosowa

Bwi-tugboat-1

Bwi-sehat[1]

Bwi-kurus[1]

More Photos

Statistik


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.